top of page

Sustainability Report Pertama: Harus Mulai dari Mana? Ini Panduan untuk Perusahaan yang Baru Memulai


Bagi banyak perusahaan, menyusun laporan keberlanjutan (sustainability report ) pertama sering kali terasa seperti tantangan besar. Pertanyaan seperti "Data apa saja yang harus dikumpulkan?", "Siapa yang bertanggung jawab?", atau "Harus mulai dari mana?" merupakan hal yang umum, terutama bagi perusahaan yang baru pertama kali menyusun laporan keberlanjutan.


Kabar baiknya, cara membuat sustainability report tidak harus dimulai dengan proses yang rumit. Dengan memahami tahapan yang tepat sejak awal, perusahaan dapat menyusun laporan yang lebih terstruktur sekaligus membangun fondasi pengelolaan data ESG yang lebih baik di masa mendatang.


1. Pahami Tujuan Penyusunan Sustainability Report


Sebelum mulai mengumpulkan data, penting untuk memahami bahwa sustainability report bukan sekadar dokumen untuk memenuhi regulasi.


Laporan ini menjadi media bagi perusahaan untuk mengomunikasikan kinerja di bidang lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG) kepada investor, pelanggan, regulator, maupun pemangku kepentingan lainnya.


Karena itu, fokus utama bukan hanya menghasilkan laporan yang lengkap, tetapi juga menyajikan informasi yang relevan, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.


2. Tentukan Standar Pelaporan yang Akan Digunakan


Langkah berikutnya adalah menentukan standar pelaporan yang sesuai.


Di Indonesia, perusahaan terbuka mengacu pada POJK No. 51/POJK.03/2017, sementara banyak perusahaan juga menggunakan Global Reporting Initiative (GRI) Standards sebagai acuan penyusunan sustainability report karena merupakan salah satu standar pelaporan keberlanjutan yang paling banyak digunakan di dunia.


Standar ini membantu perusahaan memahami informasi apa saja yang perlu diungkapkan, mulai dari topik lingkungan hingga aspek sosial dan tata kelola.


3. Identifikasi Data yang Perlu Dikumpulkan


Salah satu tantangan terbesar dalam menyusun sustainability report bukanlah menulis isi laporannya, melainkan mengumpulkan data dari berbagai departemen.


Beberapa contoh data yang umumnya dibutuhkan antara lain:


  • Data emisi gas rumah kaca;

  • Konsumsi energi seperti penggunaan listrik dan bahan bakar;

  • Penggunaan air;

  • Data limbah, termasuk pengelolaan dan daur ulang;

  • Data karyawan, seperti jumlah tenaga kerja, keberagaman, dan tingkat turnover;

  • Data pelatihan dan pengembangan karyawan;

  • Informasi mengenai program CSR atau pemberdayaan masyarakat.


Setiap data tersebut biasanya berada di departemen yang berbeda. Oleh karena itu, koordinasi lintas fungsi menjadi salah satu kunci keberhasilan penyusunan Sustainability Report.


4. Libatkan Setiap Departemen Sejak Awal


Kesalahan yang sering terjadi adalah membentuk tim penyusun Sustainability Report hanya beberapa minggu sebelum tenggat pelaporan.


Padahal, data ESG berasal dari berbagai fungsi perusahaan, mulai dari operasional, HSE, HR, procurement, finance, hingga corporate secretary.


Sebaiknya perusahaan menetapkan Person in Charge (PIC) di setiap departemen agar proses pengumpulan data dapat dilakukan secara berkala. Dengan cara ini, validasi data menjadi lebih mudah dan risiko kehilangan informasi dapat diminimalkan.


5. Bangun Sistem Pengelolaan Data yang Terstruktur


Banyak perusahaan masih mengelola data ESG menggunakan spreadsheet yang dikirim melalui email atau aplikasi percakapan. Cara ini mungkin cukup efektif pada awalnya, tetapi seiring bertambahnya jumlah data dan pihak yang terlibat, risiko human error, duplikasi data, serta penggunaan versi dokumen yang berbeda akan semakin besar.


Membangun sistem pengelolaan data yang terstruktur sejak awal akan membantu perusahaan mengumpulkan, memperbarui, dan menelusuri data dengan lebih mudah. Selain mempercepat proses penyusunan laporan, pendekatan ini juga mendukung proses verifikasi maupun audit apabila diperlukan.


Menyusun Sustainability Report Dimulai dari Pengelolaan Data yang Baik


Banyak perusahaan menganggap tantangan terbesar adalah menulis narasi laporan. Padahal, pengalaman menunjukkan bahwa keberhasilan penyusunan Sustainability Report justru ditentukan oleh kesiapan data yang dikumpulkan sepanjang tahun.


Di Life Cycle Indonesia (LCI), kami telah mendampingi berbagai perusahaan dalam menyusun Sustainability Report sesuai standar yang berlaku. Untuk membantu proses tersebut, kami juga menghadirkan easySR, platform digital yang memudahkan perusahaan mengelola data ESG, berkolaborasi antar departemen, serta memantau progres penyusunan laporan dalam satu sistem yang terintegrasi.


Dengan persiapan yang tepat, Sustainability Report pertama bukan hanya dapat disusun dengan lebih efisien, tetapi juga menjadi langkah awal perusahaan dalam membangun praktik keberlanjutan yang lebih baik.

 
 
 

Comments


bottom of page