Menyusun Sustainability Report Perdana bagi Perusahaan Pasca-IPO
- Life Cyle Indonesia

- Jul 28
- 3 min read

Keberhasilan melantai atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan pencapaian strategis bagi sebuah perusahaan. Keberhasilan ini sekaligus menandai dimulainya babak baru dalam mengomunikasikan atau melaporkan kinerja perusahaan kepada publik. Pasca IPO, perusahaan tidak hanya dituntut untuk mencetak kinerja finansial yang positif, tetapi juga menunjukkan komitmen yang kuat terhadap aspek Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environment, Social, Governance/ESG).
Salah satu instrumen utama untuk mengomunikasikan komitmen tersebut adalah melalui penyusunan laporan keberlanjutan (sustainability report) yang sejalan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 51/POJK.03/2017 (POJK 51).
Bagi emiten yang baru pertama kali menyusun laporan keberlanjutan, prosesnya sering kali menghadirkan tantangan tersendiri. Untuk memastikan proses pelaporan perdana berjalan efektif dan memenuhi standar kepatuhan, berikut adalah tiga aspek penting yang perlu diantisipasi oleh perusahaan:
1. Mengelola Fragmentasi Data dari Lintas Departemen
Penyusunan sustainability report yang komprehensif membutuhkan integrasi data dari berbagai divisi operasional. Sebagai contoh, data mengenai emisi gas rumah kaca dan manajemen limbah biasanya berada di bawah departemen Health, Safety, and Environment (HSE) atau operasional, data ketenagakerjaan dan pelatihan dikelola oleh HRD, sementara alokasi dana program sosial biasanya dikelola oleh tim Community Investment atau Corporate Communication.
Langkah Antisipasi: Hindari pengumpulan data di akhir periode pelaporan. Perusahaan disarankan untuk menunjuk Person in Charge (PIC) khusus di setiap divisi sejak awal tahun berjalan dan membangun alur komunikasi yang jelas agar konsolidasi data tidak mengalami hambatan menjelang tenggat waktu penyampaian laporan.
2. Transisi Menuju Pelaporan Berbasis Metrik Kuantitatif
Sebagian perusahaan yang baru menjadi emiten publik terkadang masih menyamakan sustainability report dengan laporan kegiatan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) yang lebih menonjolkan dokumentasi kegiatan filantropi.
Langkah Antisipasi: Investor dan regulator saat ini berfokus pada data yang terukur. Sustainability report dengan demikian harus disusun berdasarkan standar POJK 51/2017 tersebut maupun standar global seperti Global Reporting Initiative (GRI) yang meminta data kuantitatif. Hal ini berarti perusahaan harus mulai menyajikan data sesuai dengan standar tersebut. Sebagai contoh, standar POJK dan GRI meminta kalkulasi terkait intensitas energi, perhitungan emisi, hingga rasio perputaran (hire and turnover) karyawan. Dengan demikian, perusahaan perlu menghitung data-data seperti emisi, limbah, jumlah karyawan dan melaporkannya untuk mencegah persepsi greenwashing dan membangun kepercayaan pemangku kepentingan.
3. Memitigasi Risiko Manajemen Data Konvensional
Pengelolaan data ESG menggunakan spreadsheet atau proses manual masih banyak dilakukan oleh perusahaan. Namun, seiring dengan semakin banyaknya data yang harus dikumpulkan dari berbagai divisi, pendekatan ini menjadi lebih rentan terhadap human error, seperti kesalahan input, penggunaan versi data yang berbeda, hingga sulitnya menelusuri sumber data ketika dilakukan proses review atau audit.
Langkah Antisipasi: Modernisasi sistem pengelolaan data menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko tersebut. Perusahaan dapat mulai menggunakan sistem yang terstruktur untuk mengumpulkan data dari setiap divisi, menyimpan dokumen pendukung secara terpusat, serta memantau proses pengumpulan data secara berkala. Dengan sistem yang lebih terintegrasi, perusahaan dapat meningkatkan akurasi data sekaligus mempermudah proses verifikasi dan audit di kemudian hari.
Mendorong Efisiensi Pelaporan Melalui Pendekatan Digitalisasi
Mempersiapkan infrastruktur pelaporan ESG yang kokoh pada tahun pertama pasca-IPO adalah investasi strategis jangka panjang. Sebagai konsultan keberlanjutan yang telah mendampingi berbagai perusahaan sejak tahun 2015, Life Cycle Indonesia (LCI) memahami tantangan teknis yang dihadapi emiten dalam mengkonsolidasikan data dari hulu ke hilir.
Untuk menjawab kebutuhan akan proses penyusunan yang lebih efisien dan akurat, LCI menghadirkan easySR, sebuah platform digital yang dirancang khusus untuk memfasilitasi pembuatan Sustainability Report.
Platform easySR membantu perusahaan mengelola data keberlanjutan secara terpusat, mengotomatisasi perhitungan metrik sesuai standar POJK 51 dan GRI, serta memungkinkan manajemen untuk memantau kemajuan persiapan laporan secara real-time. Melalui digitalisasi, tim internal dapat mengalihkan fokus dari sekadar pekerjaan administratif pengumpulan data, menuju analisis strategis untuk mencapai target keberlanjutan perusahaan.
Bagi perusahaan Anda yang sedang mempersiapkan langkah menuju pelaporan ESG yang compliance-ready dan bernilai tambah, mari diskusikan solusi yang paling tepat bersama tim ahli kami.
Pelajari lebih lanjut bagaimana kemitraan dengan Life Cycle Indonesia dan pemanfaatan platform easySR dapat mengoptimalkan tata kelola keberlanjutan Anda di https://www.easysr.com/inquiry.

Comments